Selasa, 10 April 2012

Tentang Gadis Manis Penunggu Hujan

Gadis manis itu kecewa bukan kepalang ketika tiba-tiba turun butiran-butiran bening dari awan tebal jauh di atas genting rumahnya. Butiran-butiran itu jatuh satu demi satu  berhamburan, semakin lama semakin deras. Menciptakan sungai-sungai kecil  di halaman rumahnya. Hujan ini sejatinya indah, tapi di benak gadis manis itu hanyalah terfikir untuk pergi ke asrama pesantren secepatnya sebelum malam semakin larut. Semakin deras hujan, semakin galau juga hati gadis manis itu. Itu tampak pada kedua bibirnya yang mengkerut disertai kening yang seolah menyempit, tapi Ia tetaplah gadis yang manis.

 Sesekali menatap ke halaman dengan penuh harap untuk melihat hujan reda. Tapi makin lama ternyata makin deras. Sesekali melihat jam tangannya kemudIan melepaskan pandangannya disertai gerakan kepala yang setengah menggeleng. Sesekali Ia masuk ke kamar. Duduk di atas dipan dengan menelungkupkan kedua telapak tangannya kemudIan merapatkannya di wajahnya seperti umat Hindu beribadah kemudian kembali melihat jam tangannya. Kembali menengok halaman rumah. Duduk kemudian berdiri lagi dan begitu berulang kali.

                Setelah  penantIan yang lumayan lama akhirnya hujan pun reda. Dan gadis manis itu pun tersenyum. Manis sekali...




Poskan Komentar