Sabtu, 05 Maret 2011

KERETA API: ALAT TRANSPORTASI RAKYAT

Jam di ponselku menunjukan pukul 14.18, aku tiba di stasiun Pondok Ranji untuk selanjutnya pulang dengan kereta api arah Rangkasbitung. Setelah ku tanya petugas stasiun ternyata kereta api arah Rangkasbitung akan datang pada pukul 16.00. “ O Em Ji....bisa-bisa gue bulukan nunggu di stasiun...”
Akhirnya ku menunggu. Untungnya ponselku ada permainan ularnya. Akhirnya ku habiskan menit-menit di stasiun dengan duduk di kursi tunggu penumpang sambil bermain ular-ularan di ponsel. Sesekali ada kereta lewat ke arah kebayoran yang tak terlalu penuh tapi ku lihat di pintu-pintunya banyak tertumpuk karung-karung berisi daun salam, lengkuas, nangka muda dan lain-lain. Dan secara tidak sengaja ku lihat seorang bapak-bapak yang tampaknya dia adalah seorang kuli angkat atau seorang penjual apa entahlah dia tertidur pulas dengan tak acuhnya di atas tumpukan karung-karung yang tersusun di pintu kereta gerbong paling akhir. Luar biasa. Kenikmatan memang ada di dalam perjuangan.
Detik-detik pun menjadi menit dan menit-menit pun menjadi jam dan akhirnya ku bosan juga bermain ular-ularan, ku tutup permainan lalu ku tekan tombol kembali di ponselku hingga tampak tampilan utamanya lalu ku kunci keypad-nya dan kumasukan kedalam saku celanaku, lantas ku berdiri dan berjalan untuk melihat loket pembelian tiket apakah sudah buka atau belum. Dan loket pembelian tiket ternyata belum dibuka. Rasa kesal pun datang lagi. Ku berjalan keluar stasiun. Ku lihat sekitar. Ada tukang ojek, tukang parkir, barisan kios-kios yang menjual beraneka ragam makanan dan minuman. Akhirnya ku melihat sebuah kios bakso dan ku teringat pernah mengunjunginya dan rasanya uenak tenan. Akhirnya ku ingin mencobanya sekali lagi sekalian menghilangkan bosan.
Semangkuk bakso pun akhirnya dihidangkan. Uapnya mengepul kelangit-langit senantiasa menyebarkan aroma yang maknyosss yang membuat ku tak sabar untuk menyantapnya. “Allahumma barik lana fiima rozaqtana waqina adzabannar”, sebelum ku beri saus sambal ku aduk dulu dan ku cicipi sedikit dan “mmmmm.....muantap....” lalu ku tuang saus sambal dan kecap dan tak lama waktu berselang semangkuk bakso pun telah bersih dari mangkuknya.

***$$$***

Setelah ku melaksanakan shalat ashar di mushola berbayar setempat, jam ponselku menunjukan pukul 15.52. sebentar lagi kereta akan datang. Ku langsung bergegas menuju loket pembelian tiket dan dapat, loket tiket kereta arah Rangkasbitung sudah buka. Hanya dengan dua ribu rupiah saja ku bisa menggunakan jasa angkutan kereta api tujuan Rangkasbitung. Ada yang agak mahal sedikit yaitu empat ribu rupiah untuk kereta Rangkas jaya. Jelas jauh lebih murah di bandingkan dengan ongkos bus tujuan Rangkasbitung yang kira-kira mencapai 20-25ribuan rupiah ongkosnya. Ya wajar saja kalau kereta api selalu dipadati penumpang setiap harinya meski para penumpang harus rela bertumpuk-tumpuk ria di dalam gerbong besar yang bersambung-sambung itu, yang kalau kita lihat dari jauh persis seekor ular berkulit baja yang meraung-raung.
Jam di ponselku sudah menunjukan pukul 16.00 tapi kereta belum tiba. Tiba-tiba terdengar suara pengumuman bahwa kereta tujuan Rangkasbitung akan mengalami keterlambatan beberapa menit dan menerangkan pula bahwa memang kereta api akhir-akhir ini sering mengalami keterlambatan dan pihak kereta api meminta maaf lanjutnya.
Setelah 12 menit terlambat sang kereta api pun akhirnya tiba juga. Hati yang sudah bosan dan jengkel ini pun sepertinya agak terobati. Dibarengi dengan suara alarm jalan raya agar kendaraan-kendaraan dilarang melintas sementara dengan dihalangi palang berwarna belang merah dan putih. Kereta semakin mendekat. Suara kelaksonnya pun meraung-raung memperingatkan siapapun yang ada di depannya. Mendekat dan semakin mendekat dan tampaklah ratusan penumpang di atap-atap gerbong, di pintu-pintu berbagi tempat, berangin-angin demi tujuan menuju rumah di kampung halaman tercinta. “O Em Ji...” Ku merasa hati ini ciut lagi. Pesimis akan dapat tempat apa tidak. Jangan-jangan penantian berjam-jam ini hanya akan sia-sia belaka dan ku harus batalkan perpulanganku hari ini. Badan kereta persis masuk stasiun di rel peron satu dan berhenti. Bussss..... angin-angin dari badan kereta pun berhembus ke arah calon penumpang serentak disambut dengan tutup hidung calon penumpang yang tak ingin menghisap debu gerobak baja tersebut.
Asli, penumpang kereta api ini super penuh. Penumpang yang turun pun berdesak-desakan mencari jalan turun dikarenakan banyak penumpang egois tak rela geser dari tempatnya. Dan sayangnya penumpang yang turun tidak lebih banyak dari penumpang yang akan naik, jadi bagaimanapun kereta akan tetap penuh.
Setelah ibu-ibu dan bapak-bapak naik dan merangsek ke dalam kumpulan penumpang dalam gerobak baja tersebut aku pun berspekulasi masuk. Setelah satu langkah dari pintu sepertinya tak ada ruang lagi untuk di tempati. Spontanitas ku lihat samping kanan ada toilet terbuka yang bau luar biasa, di dalamnya ada seorang bapak-bapak tua sekitar 60 tahunan, tak pikir panjang aku masuk kedalam toilet menyertainya dan wessssss....toilet pun benar-benar menunjukan jati dirinya yaitu bau yang lebih kuat dari sebelumnya ketika aku masih di luar. Benar-benar toilet yang malang, tak ada air dan tak ada tisu untuk bersih-bersih. Wajar saja bila baunya luar biasa.
Akhirnya ku harus rela lalui perjalananku dengan berdiri dalam toilet bersama dengan beberapa orang yang merelakan dirinya berbau-bau ria dalam toilet. Masih untung dalam toilet tersebut ada sebuah jendela yang berukuran kira-kira 40x30 sentimeter sehingga aku bisa mendongakan wajahku ke luar kereta untuk sekedar menghisap oksigen segar dari luar. Beberapa kali ketika kereta berhenti di tiap-tiap stasiun aku dikagetkan dengan adanya sebuah kaki manusia yang menginjak bibir jendela, dan ternyata itu adalah kaki seorang penumpang yang berada diatas gerbong yang akan turun dan menggunakan bibir jendela kereta sebagai tangga. Busyeeet...bikin orang jantungan aja.
Kereta terus melaju dengan melewati hutan-hutan, pasar-pasar, kampung-kampung dan berhenti di stasiun-stasiun. Dan aku bersama orang-orang malang lainnya merelakan diri menikmati perjalanan ini dengan bau toilet malang menyertai kami. Ketika kereta yang ku tumpangi berhenti di sebuah stasiun, ku melihat sebuah baleho besar tertancap di stasiun tersebut dan bertuliskan “Mari Tertib Berkereta Api!”. Otakku yang sedang panas membantah kalimat persuasif tadi, “gimana orang mau tertib, toh keretanya aja Cuma ada dikit buat penumpang yang begitu banyak, emang siapa sih yang mau perjalanannya diundur ke esok hari?”.Hingga terlintas di otakku, kenapa kereta tujuan rangkasbitung dan merak sangat sedikit jumlahnya padahal penumpang yang menuju kota tersebut begitu luar biasa banyak jumlahnya?. Dan ku juga berkesimpulan, maju tidaknya suatu negara bisa dilihat dari kualitas alat transportasi umum yang digunakan oleh rakyatnya.
Poskan Komentar